Fathul Qorib: Rukun Mandi
RUKUN MANDI
وفرائض الغسل ثلاثة أشياء، أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذٰلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس. وتكون النية مكرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته. (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل، وهٰذا ما رجحه الرافعي، وعليه فلا يكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما. ومحله: ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما[1]. (وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة)، وفي بعض النسخ بدل “جميع” أصول. ولا فرق بين شعرالرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف. والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه. والمراد بالبشرة: ظاهر الجلد. ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه، ومن أنف مجدوع، ومن شقيق بدن. ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الاقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها. ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن.
[1] عندهما أي عند الإمام الرافعي والإمام النووي، وفي نسخة “عنهما” أي عن الحدث والنجاسة.
Rukun mandi ada tiga (3), yaitu:
- Niat
- Seseorang yang sedang junub (memiliki hadats besar), di saat dia ingin mandi, maka diharuskan untuk niat menghilangkan janabah, atau menghilangkan hadats besar, atau yang lainnya.
- Seorang perempuan yang sedang haidh maupun nifas, di saat dia mandi, maka dia diharuskan untuk niat menghilangkan hadats haidh atau nifasnya.
- Ketika ingin mandi maka niat harus disertakan bersamaan dengan basuhan yang pertama.
- Apabila seseorang berniat setelah membasuh bagian yang pertama, maka wajib baginya untuk mengulangi basuhannya. Jadi awal pekerjaan mandi adalah basuhan yang disertai dengan niat. Artinya basuhan setelahnya itu sah, namun basuhan sebelumnya hukumnya tidak sah sehingga harus diulangi.
- Menghilangkan najis.
- Sebelum mandi seseorang diharuskan untuk menghilangkan najis, bila memang badannya tertempel najis.
- Keharusan menghilangkan najis sebelum mandi ini adalah kefardhuan yang dikuatkan oleh Imam Rofi’ii. Artinya tidak semua ulama sepakat dengan keharusan ini. Jadi Imam Rofi’ii berpendapat bahwa sebelum seseorang melakukan mandi maka dia harus menghilangkan najis yang ada di tubuhnya. Jadi apabila kita mengikuti pendapat ini, maka satu basuhan tidak dicukupkan untuk menghilangkan najis dan hadats. Jadi seseorang yang memiliki hadats besar dan di tubuhnya terdapat najis, ini berarti dia memiliki dua kewajiban. Misalnya kita memiliki hadats besar, kemudian di tangan kita terdapat najis, maka kita tidak boleh mencuci tangan kita hanya dengan sekali basuhan karena kewajibannya dua.
- Namun menurut ulama yang lain yaitu Imam Nawawi, beliau mencukupkan hanya satu basuhan digunakan untuk menghilangkan dua; yaitu hadats dan najis.
- Perbedaan pendapat ini hanya berlaku bila najis yang terdapat di badan ini najis hukmiyah; yaitu najis yang tidak memiliki sifat-sifat najis. Artinya bila najis yang ada di badan ini najis ‘ainiyah (najis yang memiliki sifat-sifat najis), maka kedua ulama tadi yakni Imam Rofi’i dan Imam Nawawi keduanya sepakat agar melakukan dua basuhan untuk keduanya.
- Menyampaikan air ke semua rambut dan kulit. Di sebagian cetakan/redaksi tidak menggunakan kata jami’ tetapi menggunakan kata Jadi semua rambut harus dibasuh, tidak membedakan apakah rambut yang ada di kepala atau di selain kepala. Antara tebalnya rambut atau tipisnya rambut ini juga tidak dibedakan di dalam pembahasan mandi; berbeda dengan wudhu.
Catatan:
- Rambut yang terikat sehingga air tidak bisa masuk ke dalamnya tanpa melepasnya, maka harus dilepas. Jadi tidak boleh ada ikatan rambut yang menjadikan air tidak bisa sampai ke dalamnya.
- Yang dimaksud dengan kulit adalah kulit bagian luar atau anggota tubuh bagian luar. Artinya kita tidak diharuskan membasuh tubuh kita yang ada di bagian dalam; seperti di dalam hidung, telinga, dan lain-lain.
- Diharuskan untuk membasuh bagian yang terlihat dari lubang telinga. Jadi di lubang telinga cukup membasuh bagian yang terlihat saja, adapun yang tidak terlihat tidak diharuskan.
- Diharuskan membasuh hidung yang terpotong.
- Diharuskan untuk membasuh bagian tubuh yang pecah-pecah. Misalkan di kaki yang pecah-pecah, maka bagian pecahan-pecahan itu harus dibasuh.
- Bagi orang yang belum disunnat, di saat dia mandi besar, dia harus menyampaikan air ke kulit yang ada di balik daging yang dipotong di saat sunat.
- Bagi perempuan, dia diharuskan membasuh kelaminnya yang terlihat di saat dia duduk jongkok. Jadi saat perempuan duduk jongkok, maka anggota kelamin yang terlihat harus dibasuh.
- Termasuk bagian yang harus dibasuh adalah dubur di saat kita berak atau mengeluarkan kotoran, yang bagian terlihat itu juga harus dibasuh. Artinya di saat kita melakukan mandi besar kita harus sedikit mengeluarkan dubur kita dan kita basuh bagian itu. Artinya bagian dubur yang keluar di saat kita mengeluarkan kotoran, itu juga harus dibasuh karena di sebagian kondisi anggota itu terlihat, maka anggota tersebut termasuk kategori bagian luar tubuh kita.
Ditulis Oleh Bayu Widianto
Panggang, 22 Oktober 2022